THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Selasa, 13 Mei 2008

Organisasi karang taruna
Smpn 3 bandung jln sari ater tlpn(021576458)

No:0125634
Lanp:
Hal:permohonan izin

Kepada YTH:Kepala sekolah
smpn 3 bandung.

Assalam mualaikum wr.wb
Datangnya surat ini kami memohon ijin atas per pinjaman gedung/aula yang akan dipakai untuk pertandingan persahabatan antar smpn yang akan diselanggarakan pada

Tanggal:12 juni 2006
Tempat:aula smp 3 bandung
Waktu:08:30 sd 15:30

Dimikian terimakasih atas partisipasinya kami harapkan semoga berjalan lancer wasalammualaikum wr.wb

Hormat kami

Anna mulyawati

Kamis, 03 April 2008

TUGAS BLOG

NAMA:Bayu Budiyana
KELAS:IX-4
LATAR BELAKANG BLOG:Blog ini saya buat untuk memenuhi tugas akhir TIK.HI
TANGGAL LAR:04 Mei 1993
WARNA FAVORITE:Biru
KARTUN FAVORITE:final fantasti 9
TEMAN:ANNA,DEVIT,RIZA,FATIMAH NUR,IRMA,IDAY,RIAN, MAAF KALAU YG TIDAK DISEBUTKAN JANGAN MARAH
PEREMPUAN YG SAYA SUKAI CIRI CIRI Y:
1:MEMAKAI KERUDUNG
2:RAJIN SHOLAT
3:BELAJAR RAJIN
4:PUTIH
5:MUDAH SENYUM






cerpen

Menu Makan Malam

Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi
Ibu bersumpah untuk membangun keluarganya di atas meja makan. Ia terobsesi mewujudkan keluarga yang bahagia melalui media makan bersama. Maka, ia menghabiskan hidupnya di dapur, memasak beribu-ribu bahkan berjuta-juta menu makanan hanya untuk menghidangkan menu masakan yang berbeda-beda setiap harinya. Ia memiliki jutaan daftar menu makan malam di lemari dapurnya. Daftar itu tersusun rapi di dalam sebuah buku folio usang setebal dua kali lipat kamus besar Bahasa Indonesia, berurut dari menu masakan berawal dengan huruf A hingga Z. Ia menyusun sendiri kamus itu sejak usia perkawinannya satu hari hingga kini menginjak usia 25 tahun. Di sebelah kamus resep masakan itu, bertumpuk-tumpuk pula resep masakan dari daerah Jawa, Madura, Padang, bahkan masakan China. Belum lagi kliping resep masakan dari tabloid-tabloid wanita yang setebal kamus Oxford Advanced Learner.

Isi kepala Ibu memang berbeda dengan ibu lain. Dalam kepalanya seolah hanya ada tiga kata, menu makan malam. Setiap detik, setiap helaan napasnya, pikirannya adalah menu-menu masakan untuk makan malam saja. Makan malam itulah ritual resmi yang secara tersirat dibikinnya dan dibuatnya tetap lestari hingga saat ini. Meskipun, ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia tak pernah surut mempersiapkan makan malam sedemikian rupa sama seperti ketika ia melakukannya pertama, sejak usia pernikahannya masih satu hari.

Keluarga ini tumbuh bersama di meja makan. Mereka telah akrab dengan kebiasaan bercerita di meja makan sambil menikmati menu-menu masakan Ibu. Mereka berbicara tentang apa saja di meja makan. Mereka duduk bersama dan saling mendengarkan cerita masing-masing. Tak peduli apakah peristiwa-peristiwa itu nyambung atau tidak, penting bagi yang lain atau tidak, pokoknya bercerita. Yang lain boleh menanggapi, memberi komentar atau menyuruh diam kalau tak menarik. Muka-muka kusut, tertekan, banyak masalah, stres, depresi, marah, kecewa, terpukul, putus asa, cemas, dan sebagainya, bisa ditangkap dari suasana di atas meja makan. Sebaliknya muka-muka ceria, riang, berseri, berbunga-bunga, jatuh cinta, juga bisa diprediksi dari ritual makan bersama ini. Ibu yang paling tahu semuanya.

Ia memang punya kepentingan terhadap keajegan tradisi makan bersama ini. Satu kepentingan saja dalam hidupnya, memastikan semua anggota keluarganya dalam keadaan yang ia harapkan. Bagi Ibu, sehari saja ritual ini dilewatkan, ia akan kehilangan momen untuk mengetahui masalah keluarganya. Tak ada yang bisa disembunyikan dari momen kebersamaan ini. Dan kehilangan momen itu ia rasakan seperti kegagalan hidup yang menakutkan. Ia tak mau itu terjadi dan ia berusaha keras untuk membuat itu tak terjadi.

Ia tak berani membayangkan kehilangan momen itu. Sungguh pun tahu, ia pasti menghadapinya suatu saat nanti, ia merasa takkan pernah benar-benar siap untuk itu. Yang agak melegakan, semua anggota keluarganya telah terbiasa dengan tradisi itu dan mereka seolah menyadari bahwa Ibu mereka memerlukan sebuah suasana untuk menjadikannya "ada". Semua orang tahu dan memakluminya. Maka semua orang berusaha membuatnya merasa "ada" dengan mengikuti ritual itu. Namun, kadang beberapa dari mereka menganggap tradisi ini membosankan.
***
Jam empat pagi. Ibu telah memasak di dapur. Ia menyiapkan sarapan dengan sangat serius. Ibu tak pernah menganggap memasak adalah kegiatan remeh. Ia tak pernah percaya bahwa seorang istri yang tak pernah memasak untuk keluarganya adalah seorang Ibu yang baik. Jika ada yang meremehkan pekerjaan memasak, Ibu akan menangkisnya dengan satu argumen: masakan yang diberkahi Tuhan adalah masakan yang lahir dari tangan seorang Ibu yang menghadirkan cinta dan kasih sayangnya pada setiap zat rasa masakan yang dibikinnya. Ibu meyakini bahwa makanan adalah bahasa cinta seorang Ibu kepada keluarganya, seperti jembatan yang menghubungkan batin antarmanusia. Sampai di sini, anak-anaknya akan berhenti mendengar penjelasan yang sudah mereka hapal di luar kepala. Ibu takkan berhenti bicara kalau kedamaiannya diusik. Dan yang bisa menghentikannya hanya dirinya sendiri.

Sarapan tiba. Ibu menyiapkan sarapan di dapur. Ia menyiapkan menu sesuai dengan yang tertera di daftar menu di lemari makanan. Telur dadar, sayur hijau dan sambal kecap. Ada lima orang di keluarganya. Semua orang memiliki selera berbeda-beda. Suaminya suka telur yang tak matang benar, agak asin, tanpa cabe. Aries suka telur yang benar-benar tergoreng kering, dan harus pedas. Pisca, suka makanan serba manis. Telur dadarnya harus setengah matang dengan kecap manis dan sedikit vitsin. Sedangkan Canestra, tak suka pada kuning telur. Sebelum didadar, kuning telur harus dipisahkan dulu dari putihnya. Jika tidak dibuatkan yang sesuai dengan pesanannya, ia bisa mogok makan. Berhari-hari.

Bagaimana dengan Ibu? Ibu bahkan tak pernah macam-macam. Telur dadarnya adalah yang standar, tidak ada perlakuan khusus. Ia boleh makan apa saja, yang penting makan, jadilah.

Pukul 07.05. Telur dadar setengah matang asin, telur dadar pedas, telur manis dengan vitsin, dan telur tanpa kuning, berikut sayur hijau dan sambal kecap telah terhidang. Semua telah menghadapi hidangan masing-masing sesuai pesanan. Makan pagi biasanya tak ada yang terlalu banyak bicara. Semua sibuk dengan rencana masing-masing di kepalanya. Kelihatannya, tak ada yang ingin berbagi. Aries kini sudah bekerja di sebuah kantor pemerintah, menjadi tenaga honor daerah. Ia harus tiba di kantor setidaknya pada tujuh dua lima, karena ada apel setiap tujuh tigapuluh. Pisca harus ke kampus. Ia duduk di semester tujuh kini. Tampaknya sedang tak bisa diganggu oleh siapa pun. Wajahnya menunjukkan demikian. Mungkin akan bertemu dengan dosen pembimbing atau entah apa, tapi mukanya keruh. Mungkin banyak persoalan, tapi Ibu cuma bisa memandang saja. Sedang Canestra masih di SMA. Ia tampak paling santai. Tangannya memegang komik. Komik Jepang. Makan sambil membaca adalah kebiasaannya. Sang Bapak, duduk diam sambil mengunyah makanan tanpa bersuara dan tanpa menoleh pada yang lain. Pria yang berhenti bekerja beberapa tahun lalu itu tampak lambat menyelesaikan makannya. Ia menikmati masakan itu, atau tidak peduli? Tak ada yang tahu.

Satu per satu mereka meninggalkan ruang makan. Hanya piring-piring kotor yang tersisa di meja makan. Ibu membawanya ke dapur, mencuci piring-piring itu sampai bersih dan mengelap meja makan. Ritual berikutnya adalah menyerahkan anggaran belanja ke pasar hari itu kepada suaminya. Saat-saat inilah yang paling ia benci seumur hidupnya. Ia benci menerima uang dari suaminya yang selalu tampak tak rela dan tak percaya.

Akhirnya, memang bahan-bahan menu itu dipangkas seenak udelnya, ia tak mau tahu apa pun. Ujung-ujungnya ia cuma memberi sepuluh ribu saja untuk semua itu. Tentu saja kurang dari anggaran yang seharusnya, dua puluh ribu. Untuk itu semua, maka otomatis menu berubah; tak ada ayam bumbu rujak, tak ada capcay, yang ada tinggal perkedel jagung dan tempe. Sayur hijau, katanya, bolehlah. Yang penting sayur, dan murah. Ah…

Ibu berjalan ke pasar dengan gontai. Hari itu Jumat. Hari pendek. Anak-anak akan pulang lebih cepat dari biasa. Ia mempercepat langkahnya. Tak mudah membagi waktu, kadang pekerjaan teramat banyaknya sampai-sampai tak ada waktu untuk melakukan hal lain selain urusan dapur. Kadang ia berpikir ada sesuatu yang memang penting untuk dilakukan tapi itu akan mengabaikan urusan dapur dan itu berarti pula mengabaikan selera anak-anaknya. Itu tidak mungkin. Tak ada yang mengerti selera anak-anaknya kecuali dia.

Tapi kadang ia bosan berurusan dengan menu-menu. Ia telah mencoba semua menu yang ada di buku-buku masakan, ia telah mencoba semua resep masakan di teve, dan ia kehabisan ide suatu ketika. Ia mencatat menu-menu yang sudah pernah dibikinnya. Serba-serbi sambal: sambal goreng krecek, sambal goreng hati, sambal godog, sambal kentang, sambal bawang, sambal kecicang, sambal serai, dll. Aneka ca, semacam: ca sawi, ca kangkung, ca bayam, ca tauge, ca bunga kol, dll. Semua jenis perkedel dan gorengan kering: perkedel ketimun, perkedel kentang, perkedel jagung, pastel kentang, kroket kentang, dan seterusnya. Sampai makanan golongan menengah dilihat dari mahalnya bahan pokok semacam: babi kecap, gulai kare ayam, gulai udang, sate bumbu rujak, opor ayam, sup kaki ayam dengan jamur tiongkok, dendeng sapi, kepiting goreng. Juga serba-serbi makanan China semacam: shiobak, koloke, fuyung hai, ang sio hie, hao mie, tao mie, dan seterusnya. Daftar ini masih akan bertambah panjang kalau disebutkan serba-serbi pepes, serba-serbi urap, atau serba-serbi ikan.

Semua menu sudah dicobanya habis tak bersisa, tapi sepertinya masih saja ada sesuatu yang kurang. Ia pun lebih kerap berkreasi, satu menu masakan kadang-kadang dipadu dengan menu masakan lain, misalnya pepes tempe, gulai pakis, sate tahu, dan sebagainya. Tapi masih saja menu-menu itu terasa tak cukup untuk membuat variasi menu yang berbeda setiap harinya. Karena itulah yang akan membuat keluarganya betah dan merindukan makan malam.

Ia pernah merasa ingin berhenti saja memikirkan menu-menu itu, tapi suaminya akan berkata, "Kau telah memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, tidak bekerja dan melayani keluarga. Bahkan kau bersumpah akan membangun keluarga di atas meja makan, kenapa tidak kau pikirkan sebelumnya?"

Ibu merenungkan kata-kata suaminya. Ada yang salah terhadap penilaian-penilaian. Ada yang tak adil di dalamnya. Hampir selalu, yang menjadi korban adalah mereka yang dinilai, mereka yang tertuduh, mereka yang melakukan sesuatu tapi dinilai salah dan dianggap biasa-biasa saja. Tapi apa sesungguhnya yang terjadi dengan biasa dan tak biasa? Apa yang menentukan yang biasa dan yang tak biasa? Menjadi Ibu adalah sangat luar luar luar biasa. Apakah seorang ibu rumah tangga yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk keluarga lebih biasa daripada seorang ibu yang tak pernah sekalipun berpikir tentang keluarganya, meski ia punya tujuh perusahaan dan kaya raya? Lagipula, itu cuma perasaan, bukan angka-angka dalam matematika, namanya juga perasaan. Tercium bau hangus. Ibu tersentak dari lamunannya. Tempenya gosong.

Ia menyudahi goreng-menggoreng tempe itu. Lalu dengan bergegas ia menyambar sekeranjang cucian kotor, mulai mencuci. Anaknya datang satu per satu. Ibu belum selesai mencuci. Ia agak tergesa karena harus menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya. Setelah menyiapkan makan siang, ia kembali bekerja, menyelesaikan cucian.

Makan siang Ibu adalah jam 3 sore. Setelah itu, ia tidur dua jam. Sehabis jam 5 sore, sehabis tidur siangnya, ia harus menyiapkan makan malam. Sehabis makan malam, jangan kira ia selesai. Ada Bapak yang setiap hari minta dipijit, tapi setiap hari mengeluh pijitan Ibu tak pernah mengalami kemajuan. Ah…

Dia melakukannya selama sisa hidupnya. Ia berkutat dengan semua itu selama puluhan tahun, tak pernah ada yang memujinya, dan ia pun tak ingin dipuji, tapi itukah yang disebut perempuan biasa?

Suatu ketika, sebuah peristiwa datang mengusik keluarga itu.
Hari itu Selasa, ketika sebuah perubahan memperkenalkan dirinya kepada keluarga itu. Aries menolak makan bersama. Ia tentu punya alasan di balik aksi mogoknya. Tapi tak ada yang tahu apa alasan Aries.

Ibu kecewa. Menu makan malamnya tak dicicipi selama tiga hari berturut-turut. Ini adalah beban mental bagi seorang Ibu. Ia bukanlah orang yang suka memaksa, tapi selalu membaca dari tanda-tanda dan suka juga menebak-nebak. Sialnya, Aries tak pernah memiliki cukup waktu untuk menjelaskan semua itu. Ia tampak begitu sibuk. Kadang ia bahkan terlihat menyibukkan diri, menghindar dari Ibu. Ia menomorduakan ritual makan malam mereka. Ibu menangis, ia merasa segala usahanya untuk membangun tradisi makan malam ini sia-sia saja. Salahkah jika ia berusaha membikin sesuatu yang kelak retak menjadi abadi? Mungkin memang salah, tapi dulu tak seorang pun cukup berani menunjukkan di mana letak salahnya, tak seorang pun tega mengecewakan Ibu. Tapi Aries, kini telah membuatnya kecewa secara nyata.

Suasana menjadi semakin keruh ketika di hari kelima, keenam dan ketujuh, Aries juga absen makan malam.
Ibu bertindak. Ia masuk ke kamar si sulung, lalu, mungkin, bicara di sana. Pisca dan Canestra duduk di depan tivi, tidak mendengar apa-apa.

Satu jam kemudian, Ibu keluar dengan wajah murung, tapi dibikin agar kelihatan berseri. Ia tampak aneh.
"Aku tahu selama ini kita tak pernah jujur dengan makan malam itu. Satu-satunya yang jujur hanya dia. Kita semua sudah bosan, ya kan? Ibu juga. Dan mulai saat ini, tidak ada lagi kebohongan apa pun. Tinggalkan saja jika kalian memang tak setuju. Ibu juga sudah lelah memikirkan menu-menu makan malam untuk kalian. Ibu ingin merasa tidak perlu menyiapkannya untuk kalian. Ibu akan mencoba. Selamat bersenang-senang!"

Ibu terlihat enteng menyelesaikan persoalannya. Bapak menyusul Ibu ke kamar. Mudah-mudahan mereka bercinta. Ah ya mereka sepertinya tak pernah bercinta lagi sejak beberapa tahun ini. Padahal itu perlu, terutama bagi Ibu yang lelah luar biasa. Fisik dan jiwa.

Pisca menyelinap masuk ke kamar Aries, meninggalkan Canestra yang masih asyik nonton tivi. Ia sungguh ingin tahu, apa yang dibicarakan Ibu dan Aries, sehingga Ibu keluar dengan wajah aneh, murung tapi dipaksakan berseri. Pisca bertanya, "Ada apa?" Aries tak menjawab, namun tiba-tiba menangis dan menenggelamkan wajahnya di bawah bantal. Dengan sesenggukan, ia berkata, "Untuk apa lagi mempertahankan sebuah kepalsuan di depan Ibu? Salah satu dari kita semua telah mengkhianati Ibu, untuk apa lagi semua ini dipertahankan?"

Pisca menangkap ucapan kakaknya dengan jelas, namun ia tak mengerti, dan tak ingin mengerti, karena semua itu terlalu menyedihkan baginya. Apalagi yang lebih menyedihkan ketika tahu seseorang telah berkhianat kepada Ibu? Siapa pun dia, Pisca tak ingin tahu. Ia tak ingin mendendam, apalagi terhadap keluarganya sendiri. Tapi, bukankah Ibu selalu tahu apa yang terjadi? Semua pertanyaan bertumpuk-tumpuk di kepalanya.

Sesuatu yang kelak retak, yang Ibu pernah berusaha membikinnya abadi, kini sudah benar-benar retak berkeping-keping dan tak mungkin disatukan lagi. Sejak saat itu, makan malam bersama tidak rutin lagi bagi mereka. Hanya Ibu yang masih betah di sana. Sesekali Pisca atau Canestra mendampinginya. Mungkin tiba saat ketika ia benar-benar rindu makan malam bersama.

Sialnya, Bapak benar-benar tak memahami persoalan dengan baik. Ia sok bijak dan pandai. Kata-katanya sungguh tak tepat untuk menggambarkan seluruh keadaan ini.

"Benar kan, Ibumu memang perempuan biasa-biasa saja. Ia bahkan menganggap hal remeh ini sebagai kiamat dalam hidupnya!"
Pisca meradang. Ia merasa Bapak yang sombong itu harus dihentikan.

"Apa yang biasa? Apa yang tak biasa? Bapak juga laki-laki biasa, yang tak bisa seperti Ibu. Bapak jauh lebih biasa dari Ibu. Ibu, setidaknya berusaha membikin tradisi agar kita tahu arti kebersamaan sekalipun di atas meja makan. Tapi lihatlah Bapak yang hanya suka mengejek tapi tak pernah melakukan apa pun, bahkan tak pernah berusaha melakukan apa pun!"

Bapak diam. Dia kelihatan tersinggung. Tapi Pisca suka dan puas membuatnya tersinggung. Pisca memutuskan untuk menemui Ibu. Ibu menyambutnya dengan senyum. Ia tahu Pisca akan berbicara soal Bapak, soal biasa dan tak biasa. Ibu mencegahnya bicara lebih dulu, "Begini. Bapak benar soal Ibu yang biasa-biasa saja. Ini sudah seharusnya. Ibu menerima semua itu, bukan karena Ibu pasrah tapi Ibu mengerti betul kalian semua dan juga persoalan ini. Ibu memang perempuan biasa, tak ingin menjadi yang tak biasa. Ibu mencintai Bapak, kalian semua. Ibu tak bisa memberi uang, maka Ibu cuma memberi kemampuan Ibu memasak, itu pun jika kalian mau menikmatinya."

"Tapi Bu, ini penghinaan. Masalah makan malam itu bukan masalah sekadar, bukan masalah remeh temeh. Sebesar itu usaha Ibu membangun tradisi kebersamaan di keluarga kita, tapi Bapak bahkan menganggapnya tak ada. Kita belajar satu sama lain di meja makan itu, kita memutuskan hidup kita di atas meja makan itu, dan ingat, ketika Bapak berhenti bekerja di kantor karena penyelewengan dana yang sangat memalukan itu, yang menolong Bapak adalah kita, juga di atas meja makan itu."

"Bapak kini sedang merasa kesepian, ia kehilangan saat-saat terbaiknya, itu hal tersulit yang pernah ditemuinya. Kita harus memahami itu."

Dari beranda, Bapak mendengar semua percakapan itu. Ia berpikir bahwa istrinya memang baik, pengertian dan sabar, tapi sungguh ia sangat biasa, dan yang terpenting, tak menggairahkan. ***
Singaraja, 8 November 2005

SASUKE

After his assignment to Team 7 at the start of the series, Sasuke displays an immediate confidence in his abilities. He is as such unwilling to work with his teammates, Naruto Uzumaki or Sakura Haruno, believing their skills to pale in comparison to his own and therefore making them useless if he is to ever kill Itachi.[20] These perceptions are quickly proven wrong, for despite their failings, Sakura is an excellent source of information and competition with Naruto acts as an effective way to get stronger.[21] While his confidence in himself is ever-present throughout the series, Sasuke slowly begins to rely on those close to him over the course of Part I. This begins to result in his risking his own life to save those of his friends, even though his death would leave him unable to gain vengeance on Itachi.[22] He becomes complacent with his life in Konohagakure, satisfied with the speed of his growth as a ninja.

Similar to how Itachi used the slaughter of the Uchiha clan to measure his ability, Sasuke uses his battles with the various characters he meets in Part I to gauge his increase in strength. Through his battles with Haku, Rock Lee, and Gaara, Sasuke is able to test his abilities against those of progressively stronger ninja, discover his weakpoints, and carry away something new from the battle. Once Naruto begins to prove his worth, Sasuke starts to yearn for a battle with him as well.[23] Naruto, however, gains strength at a much more rapid rate than Sasuke, even learning the Rasengan, an attack stronger than Sasuke's Chidori. This, coupled with Sasuke's quick defeat by Itachi during the Return of Itachi arc, leads Sasuke to believe his growth is slowing. In an attempt to reassess his strength, he begins to treat his friends as opponents so as to test his abilities against their own.[24]

Dissatisfied with his progress in Konoha and believing Orochimaru holds the keys to getting strong enough to kill Itachi, Sasuke defects from Konoha at the end of Part I.[25] Naruto, the character Sasuke comes to consider his closest friend, tries to stop him, but Sasuke only tries to kill Naruto, believing his friend's death will grant him the strength needed to kill Itachi.[19] He is ultimately unable to bring himself to kill Naruto, realizing that is what Itachi would want, and instead continues on to Orochimaru.[26] In the two-and-a-half years he spends with Orochimaru, Sasuke's goal to kill Itachi takes precedence above all else, such that he is willing to give his body to Orochimaru if it means gaining the strength he needs.[27] Sasuke also comes to abandon his loyalties to others once they are of no further use to him, turning against Orochimaru after reaching the conclusion he can learn nothing else of value.[28] While he pays no allegiance to his allies, old or new, in Part II, Sasuke cannot bring himself to harm those he has never met before, and makes it a point to prevent their deaths when possible.
Sasuke Uchiha (うちはサスケ Uchiha Sasuke?) adalah seorang karakter fiksi dari komik dan anime Naruto. Nama depan Sasuke, konon berasal dari nama seorang ninja legendaris, Sarutobi Sasuke. Sedangkan nama belakangnya, "Uchiha" dibaca sebagai "uchiwa", atau kipas kertas (kipas yang terbuat dari kertas). Pada jaman Jepang kuno, uchiwa seringkali dipakai dalam upacara kerajaan, sebagai souvenir, atau digunakan untuk melindungi prajurit dari serangan anak panah. Namun dalam filosofinya, "uchiwa" adalah sebuah kipas yang mampu mengobarkan bara menjadi api, yang menggambarkan kemampuan klan uchiha yang mampu menggemblang keturunan mereka menjadi seorang ninja yang hebat.
Sasuke is able to easily grasp most ninja-related abilities. Throughout the series he displays great proficiency with the Uchiha clan's signature fire and weapon-based techniques, surprising his teacher, Kakashi Hatake, during their first training session.[30] Of the abilities gained through his Uchiha lineage, Sasuke most commonly uses the Sharingan, a unique eye inheritance that grants him a variety of advantages in battle. For the duration of Part I, Sasuke's Sharingan continues to develop, granting him new abilities in the process. When it first forms, Sasuke is given the ability to pick up and react to fast-moving opponents,[31] and in a subsequent arc he is able to mimic Rock Lee's speed for his own personal usage.[32] Once fully manifesting itself at the end of Part I, Sasuke is even able to use his Sharingan to predict the movements of others, allowing him to dodge an attack before it is made.[33] In Part II, Sasuke starts to use his Sharingan to cast genjutsu, illusionary techniques with which he can manipulate and confuse others.[34]

Like the Sharingan, Orochimaru's influence is a recurring element of Sasuke's abilities. During their first encounter during the Chunin Exam arc, Sasuke is branded with a cursed seal, which grants him a brief surge in strength and speed when active. Though he is left exhausted after its usage, Sasuke's various uses of the seal cause him to crave more of its power.[35] As such, Sasuke forces his seal to a second level, drastically changing his appearance when active and giving him a boost in chakra.[36] Once he begins training under Orochimaru, Sasuke learns to summon snakes, which he can call upon in battle to help attack or defend.[37] Orochimaru also uses their time together to enhance Sasuke's physical abilities, such that neither Naruto nor Sakura are a match for him during their first re-encounter in Part II.[38] After absorbing Orochimaru into his body, Sasuke gains access to his unique abilities, such as healing from injuries in short periods of time.[39]

Prior to Sasuke's defection, Kakashi Hatake teaches him how to use the Chidori in an attempt to steer him away from Orochimaru.[24] The Chidori, a collection of lightning-based chakra in the user's hand, serves as a rapid thrusting attack that severely damages any target. While Sasuke is able to put the Chidori to great use during Part I, his usage of the attack is somewhat limited in Part II. Instead, Sasuke employs variants of the technique, using the fundamentals behind the Chidori to create a number of new abilities. Sasuke's first display of such an ability involves emitting electricity from his body as a shield and then sending it along the blade of his chokutō to increase its cutting potential.[40] He later proves able to mold electricity into more solid forms such as throwing needles,[41] and even harnesses natural lightning to create a devastating and unavoidable attack called Kirin (麒麟, Kirin?). Because of the amount of energy required to create the Chidori, Sasuke can only use it twice per day under his own power for the duration of Part I.[42] In Part II, a limit on his number of uses for the Chidori or its variants has yet to be seen.

Seorang ninja level genin, Sasuke adalah seorang jenius dari sebuah klan hebat di Konoha, Klan Uchiha. Klan Uchiha dikenal dengan garis keturunan khususnya yaitu Sharingan, begitu juga dengan kemampuan mereka menguasai elemen api. Klan ini juga memberikan kontribusi besar sebagai pasukan keamanan Konoha. Sasuke merupakan seorang dari tiga orang yang tersisa di Klan Uchiha.
Seperti kebanyakan anggota klan Uchiha, Chakra Sasuke lebih ke arah elemen Api, namun dia juga dapat memanipulasi elemen listrik, seperti Chidori.
[sunting] Masa Lalu
Anak kedua dari Kepala Pasukan Keamanan Konohagakure, Sasuke tumbuh di bawah bayang-bayang kakaknya Itachi Uchiha. Itachi adalah seorang yang dihormati seluruh desa sebagai jenius yang menyelesaikan pendidikan sebagai genin pada usia 7 tahun, menguasai Sharingan pada usia 8 tahun, lulus ujian Chuunin pada usia 10 tahun, dan menjadi kepala pasukan ANBU pada usia 13 tahun. Klan Uchiha menghormati Itachi dan memberi harapan penuh kepadanya sebagai penghubung antara desa dan klan. Ayah Sasuke, Fugaku Uchiha memberikan perhatian lebih kepada Itachi, membuat Sasuke kecil sedikit iri kepada kakaknya, karena ayah Sasuke tak pernah menghabiskan waktu bersama Sasuke dan berkata "anakku memang hebat" sebagaimana ayahnya berkata demikian kepada Itachi, meskipun Sasuke selalu menjadi nomor satu di akademi ninja. Itachi mengerti perasaan Sasuke dan berkata "Kau dan aku adalah saudara yang sangat unik. Aku akan terus berada di sampingmu sebagai dinding yang harus kau lampaui."
Setelah kejadian antara Itachi dan beberapa anggota klan Uchiha lainnya, hubungan antara ayah Sasuke dan Itachi menjadi sedikit renggang. Itachi menjadi lebih menakutkan dan mempertanyakan keberadaan dirinya sebagai "wadah" (utsuwa) klan. Selama waktu itu, ayah Sasuke kemudian mengajari Sasuke sebuah jurus berelemen api, yaitu Goukakyuu no Jutsu. Sasuke dapat menguasai jurus tersebut dalam waktu satu minggu, membuat ayahnya terkejut dan akhirnya mengakui Sasuke sebagai anggota klan Uchiha yang sebenarnya. Ayah Sasuke juga memperingatkan agar kelak Sasuke tidak mengikuti jejak kakaknya. Tidak lama setelah hari itu, Sasuke menemukan seluruh anggota klannya habis dibunuh oleh Itachi, termasuk ayah dan ibunya. Itachi mengatakan bahwa Sasuke tidak ada harganya untuk dibunuh. Sebagai tambahan (di komik volume 25) Itachi mengatakan bahwa Sasuke dibiarkan hidup karena dia selalu ingin mengalahkan Itachi. Itachi juga memberitahukan rahasia dan sejarah sebenarnya di balik mata merah Sharingan. Yaitu untuk menguasai Mangekyoushi Sharingan, Sasuke harus membunuh teman terdekatnya.
Sasuke lalu tersungkur dan terbangun di Rumah Sakit Konoha. Dia lalu kabur dari Rumah Sakit dan pergi ke desanya, mengingat kebahagiaan yang kini telah tiada. Sasuke kemudian pergi ke kuil Nakano dan menemukan rahasia yang diberikan Itachi. Mulai saat itu, Sasuke memutuskan bahwa dia hidup hanya untuk membunuh Itachi.

AKATSUKI

Pain/Nagato,Uchiha Madara/Tobi/(mungkin Obito),Konan,Hidan,Uchiha Itachi,Zetsu,Kisame Hoshigaki,Deidara,Kakuzu,Sasori,Orochima...
dan katanya ada Yondaime juga.
kalah:Deidara = ama Sasuke (sebenernya bunuh diri)
Sasori =ama sakura dan nenek Chiyo
Hidan = Sama Shikamaru
Kakuzu = 1.Hatake Kakashi
2.Hidan
3&4.Naruto
Berhenti: Orochimaru yang sekarang bergabung kedalam tubuh Kabuto.
hidup :Pain,Konan,Zetsu,Itachi,Tobi,Kisame.
Keahlian:Pain mempunyai Rin'nengan.Konan mengendalikan kertas,Itachi Sharingan dengan jurusnya Amaterasu dan Tsuyokomi.Orochimaru memanggil ular dan pedang Kusanagi juga berpindah tubuh ;Dll,Sasori mengendalikan boneka sesuka hatinya,Deidara menciptakan karya yang dapat meledak,Zetsu berpindah tempat dalam waktu sekejap juga menghilangkan bukti seperti memakan bangkai dan dapat menjaga markas akatsuki dari jauh saat ritual jinchuuriki,Kisame mengendalikan jurus-jurus air dsb. seperti Zabuza,Hidan mengendalikan musuhnya seperti ritual voodoo,Kakuzu memiliki 5 jantung dan dapat mengendalikan 5 elemen.Tobi (katanya) menggunakan kekuatan sebenarnya Sharingan.